Tulisan ini merupakan suntingan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Anarki dalam Sepak bola?
Sepak bola, bisa disebut sebagai olahraga terbesar di dunia. Entah karena “mudah di jual”, permainan yang menarik, atau alasan lainnya yang menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang sangat mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Tapi sekarang, sepak bola semakin berubah. Kemajuan sepak bola itu sendiri akhirnya, di sengaja atau tidak, semakin menunjukan bahwa sepak bola kehilangan “jati diri”-nya.
Mungkin bisa dikatakan bahwa, sebagian besar dari mereka yang mengaku sebagai suporter menerima berbagai kejanggalan yang terjadi begitu saja, seperti tiket yang mahal, regulasi yang membatasi suporter untuk mengekspresikan gairah mereka, kekerasan aparat, korupsi yang dilakukan manajemen klub dan federasi, atau bahkan pengaturan skor. Mereka menerima semua itu selama klub yang mereka dukung bermain baik dan meraih kemenangan di setiap pertandingannya, atau setidaknya, mereka hanya peduli dengan klub mereka sendiri — tidak peduli dengan berbagai masalah yang dialami klub dan suporter lain.
Kita ambil contoh, Perseru Serui yang bermain di Liga 1, paling terlihat di-kambing-hitam-kan oleh federasi, dan mungkin oleh stasiun televisi. Laga tandang Perseru melawan Persija yang seharusnya digelar di Serui tidak mendapat izin dari PSSI karena masalah akses dan stadion, laga tersebut “terpaksa” digelar di stadion Patriot, Bekasi, yang merupakan kandang “usiran” Persija. Kejanggalan yang sama dengan alasan yang sama juga terulang kala Perseru sebagai tuan rumah melawan Bali United, dan laga tersebut digelar di Bali. Pertanyaannya, seirama dengan yang dilontarkan Rene Albert, pelatih PSM Makassar, mengapa kedua laga tersebut tidak digelar di tempat netral saja? Karena toh kedua laga tersebut di putaran kedua Liga 1 pun digelar di stadion yang sama. Dan pertanyaan lainnya adalah, jika akses dan stadion yang menjadi masalah, mengapa tidak dari awal Liga 1 bergulir saja Perseru bermain diluar Papua? Mengapa justru beberapa laga lainnya tetap digelar di Serui? Dan, nyatanya, hingga sekarang belum ada satu kelompok suporter lain pun yang mengecam dan melakukan aksi untuk mempertanyakan dan menolak kejanggalan ini.
Stasiun televisi pun memiliki perannya tersendiri dalam segala kejanggalan yang ada di sepak bola kita ini, broadcasting yang buruk, jam pertandingan yang seenaknya diatur, hingga klub-klub yang sangat jarang mendapat jatah tayangan langsung. Alasannya sudah jelas, stasiun televisi mencari klub dengan basis suporter yang besar dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia untuk meraih rating tinggi di setiap pertandingannya.
Tapi, kawan, tidak semua suporter yang kumaksud adalah sama. Walau dalam skala kecil, ada saja suporter yang menjalin solidaritas dan melawan segala kebijakan manajemen dan federasi dengan cara mereka sendiri. Hanya saja, mungkin, karena pergerakan mereka cenderung di bawah tanah, media massa ogah memberitakan sehingga kita tidak mengetahuinya.
Hal-hal mendasar seperti diatas tidaklah hanya terjadi di liga Indonesia saja, jadi, secara tidak langsung, itu membuat sepak bola semakin tidak menarik.
Tapi berbagai masalah yang mereduksi autentisitas sepak bola ini tidaklah selalu dibiarkan para suporter. Kita ambil contoh dua klub yang paling popular dalam kasus ini, dengan dua suporter yang mengambil alih kontrol klub dan membuat klub tandingan. Kedua klub tersebut adalah FCUM dan ST. Pauli, kedua klub tersebut memiliki visi dan misi yang sama, yaitu menolak sepak bola modern yang dewasa ini semakin membusuk oleh kepentingan kapitalis dan tidak acuh terhadap para suporter dan permainan sepak bola yang indah walau sederhana.
Di tempat yang sama dengan FCUM, Inggris, para anarkis menggelar sebuah turnamen sepak bola alternatif yang menjadi tandingan terhadap sepak bola kapitalis, turnamen tersebut rutin digelar setiap perayaan Mayday yang jatuh pada tanggal 1 Mei. Dan dengan semangat yang sama, berdirilah Cowboys Easton dan Cowgirls, di Bristol. Bahkan pada 1998, Cowboys Easton dan Cowgirls menggelar sebuah turnamen yang mereka beri nama Piala Dunia Tandingan. Langkah yang mereka ambil pun mendapat apresiasi dari Subcomandante Marcos, hingga membuat mereka diundang untuk bermain sepak bola di Chiapas.
Beberapa contoh klub dan turnamen yang menjadi tandingan dan melawan arus industri sepak bola yang membabi buta tersebut tidak lepas dari peran kelompok anarkis yang melihat sepak bola sebagai sarana untuk mengangkat isu-isu sosial, atau bahkan senjata untuk melawan kelas penguasa. Mungkin kita semua tahu, bahwa pada awalnya dulu sepak bola lebih sering dikenal sebagai olahraga rakyat. Sepak bola juga menjadi alat pemersatu, di mana para suporter dari berbagai macam kalangan berkumpul di stadion dan merasakan kolektivitas yang dialami klub yang mereka dukung.
Jauh lebih awal, di Kroasia pada tahun 1912, para kelas pekerja yang merasa hidup dalam belenggu kemiskinan, mendirikan sebuah klub yang mereka namai RNK Split of Croatia. Klub ini tidak hanya di dirikan untuk memaknai sepak bola sebagai olahraga rakyat, melainkan juga memiliki peran yang besar terhadap penyebaran ide-ide anarkis di Kroasia pada zamannya. Di Argentina pada tahun 1908, sudah lebih dulu terdapat sebuah klub dengan nama Atletico Libertarios Unidos (Libertarians United), klub tersebut di dirikan atas dasar perlawanan terhadap pemerintah yang melabeli siapa-siapa yang melawannya sebagai subversif. Kita juga mungkin mengenal sebuah semboyan yang berbunyi “In soccer you learn how to act in solidarity”, yang merupakan semboyan dari klub Argentinos Juniors. Klub tersebut juga di dirikan oleh para martir anarkis di Argentina sebagai bentuk penghormatan kepara para pejuang Haymarket dan Chacarita Juniors.
Mengapa para anarkis cenderung memilih sepak bola?
Anarki secara teori politik ada untuk menghapuskan hierarki dalam masyarakat. Kata “anarki” sendiri adalah serapan dari bahasa Yunani, anarchos/anarchein. Kata ini merupakan bentukan dari “A” yang berarti tidak, tanpa, nihil atau negasi. Kemudian disisipi “N” dengan archos/archein yang berarti pemerintah, kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas – secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani. Maka sederhananya, anarki memiliki arti; tanpa ada yang di perintah, tanpa ada yang memerintah. Dengan anarki, kita akan belajar memahami bahwa kita semua tertindas – baik oleh sistem pemerintahan, kapitalisme, ruang lingkup sosial dan negara, tentunya. Oleh karena itu, anarki memandang negara sebagai instrumen politik yang akan terus melahirkan penindasan, bahkan dengan cara-cara “halus” yang kadang menghipnotis kita agar tak langsung merasa tertindas.
Dan, apa yang terdapat dalam sepak bola modern ini juga sama, ia menjebak para suporter dalam zona yang menghipnotis agar mereka tidak menyadari eksploitasi di balik layar, contohnya sebagian dari para suporter yang berpikir bahwa untuk mendukung suatu klub adalah berarti dengan membeli tiket semahal apa pun harganya, membeli jersey original karena jersey palsu dianggap merugikan klub secara finansial, rutin mengecek update berita mengenai klub yang di dukung melalui berbagai media massa dan hadir di stadion dengan baik agar klub tidak mendapatkan sanksi — adakah kata-kata lain untuk menggambarkannya secara sederhana selain, patuhi dan terus mengkonsumsi? Sepak bola modern memaksa mereka untuk berubah dari suporter, menjadi sekadar penonton.
Sepak bola pun terkenal dengan maskulinitasnya, sebuah budaya patriarkal menjijikan yang justru di terima begitu saja oleh kebanyakan suporter karena berbagai dogma yang selama ini mereka percaya. Maka tidaklah aneh jika seksisme juga terus menjamur di kalangan suporter itu sendiri. Belum selesai, sepak bola pun memiliki sejarah yang panjang dengan rasisme dan chauvinisme. Oleh karena itu, para anarkis berusaha mengembalikan sepak bola yang sederhana, sepak bola untuk kesenangan sekaligus menjadi alat perlawanan.
Dengan membuat klub dan turnamen tandingan, atau merebut kontrol klub dan tidak terlalu mempedulikan urusan kapital, menjadikan sepak bola lebih menyenangkan. Rasa kolektivitas dan sportifitas yang kuat dari suatu klub mau pun suporter mampu membuat klub atau suporter lawan menghargai, dan dengan saling menghargai tak peduli hasil akhir atau permainan yang sulit, mereka sedikit lebih maju untuk kembali menghidupkan sepak bola.
Seorang anarkis dan mantan pemain sepak bola asal Austria, yang juga pernah menulis buku dengan judul Soccer vs. the State: Tackling Football and Radical Politics, Gabriel Kuhn, berpendapat dalam pamfletnya yang berjudul Anarchist Football (Soccer) Manual, bahwasannya industrialisasi sepak bola perlahan tapi pasti melenyapkan rasa solidaritas antar individu mau pun kolektif. Kuhn juga berpendapat bahwa olahraga tim, khususnya sepak bola, dapat memberikan pelajaran sosial yang berharga. Bersama dengan anarkis lainnya, Kuhn percaya bahwa sepak bola bisa memiliki relevansi bagi aktivis politik radikal. Mereka melihat tim sepak bola sebagai mikrokosmos sosial – sebuah mikrokosmos yang menuntut agar individu berkumpul dan membentuk sebuah kolektif untuk melakukan pencapaian tertentu.
Pamflet yang diinisiasi Kuhn tersebut pertama kali disebarkan pada tahun 2006, bertepatan dengan Piala Dunia Jerman. Pamflet yang juga cukup dikenal di Swiss tersebut, tepatnya di perpustakaan CIRA (International Centre for Research on Anarchism), juga menerangkan mengenai bagaimana mengatur permainan secara kolektif dan individual dengan baik, bagaimana membangun sebuah klub kolektif, dan tidak lupa juga segala penyadaran terhadap masyarakat luas mengenai industrialisasi sepak bola yang tidak hanya mengeksploitasi suporter, melainkan juga berdampak kepada para pemain dan pelatih itu sendiri.
Sedikit penjelasan di atas mungkin juga memberi sedikit gambaran dan alasan dari mengapa para anarkis memilih sepak bola sebagai alat perlawanan mereka. Mereka berusaha mengembalikan esensi sepak bola yang sederhana dengan cara mereka masing-masing, membuat sebuah klub kolektif yang bebas dari eksploitasi laiknya sepak bola industri, merebut kontrol klub dari tangan-tangan licin para pemegang modal yang tidak pernah benar-benar peduli kepada sepak bola, dan menjadikan tribun sebagai ruang sosial yang menjadi tempat untuk saling menghormati dan bergaul meski keadaannya sulit, meski sedang bersaing satu sama lain. Hal tersebut seharusnya menjadi latihan penting bagi orang-orang yang bercita-cita untuk terlibat dalam menciptakan dan memelihara komunitas anarkis.
Mereka menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang bisa dinikmati siapa saja, tak peduli ras, agama, suku mau pun gender. Sepak bola tanpa diskriminasi dan eksploitasi adalah satu-satunya sepak bola yang paling baik. Dan dengan itu, sepak bola bukan lagi sekadar urusan sosio-geografis, melainkan juga perihal siapa-siapa yang ingin merebut kembali esensi yang hilang dari sepak bola.
Dan terakhir, kalian boleh saja mengklaim diri sebagai suporter atau sekadar penggemar sepak bola. Tapi, jika kalian tidak peduli dengan berbagai problematika yang terjadi di tribun, lapangan, atau pun di manajemen dan federasi, maka kalian tidaklah benar-benar memaknai sepak bola sebagaimana adanya. Jika kalian hanya peduli urusan klub yang kalian dukung saja, maka kalian bukanlah seorang penggemar sepak bola, kalian hanya merasa senang untuk tetap diam seraya manajemen klub dan federasi terus menghisap profit dari segala teriakan dan tangisan orang-orang di tribun. Sepak bola kapitalis sedang menghipnotis kalian untuk tetap berdiam di zona nyaman, dan untuk tetap patuh, dan terus mengkonsumsi tentunya.
Sepak bola ada untuk di nikmati sebagai olahraga rakyat, jika sepak bola popular telah direbut oleh para pemegang modal, maka sebaiknya kalian melihatnya dari sudut yang lain. Buatlah tandingan dan lampaui. Selalu ada kesempatan untuk merebut apa yang sudah direbut. Another football is possible. Sepak bola untuk semua.


